أَحْمَد Seorang muslim yang berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Saya Gemar membaca, menulis dan juga senang untuk berbagi pengetahuan.

Awali dengan Bismillah

Awali dengan Bismillah

awali dengan bismillah…”, sebegitu pentingkah mengawali segala sesuatu dengan bismillah?
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

كُلُّ أَمْرٍ ذِيْ بَالٍ لاَ يُبْدَأُ فِيْهِ بِـ : بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ فَهُوَ أَبْتَرُ

Setiap perkara penting yang tidak dimulai dengan ‘bismillahirrahmanir rahiim’, amalan tersebut terputus berkahnya.

(HR. Al-Khatib al-Baghdadi dan Abdul Qadir ar-Rahawi).

Dari penuturan Rasululullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas, dapat dipahami bahwa bacaan bismillah (bismillahirrahmanir rahiim) itu sangat penting dan sangat tinggi nilainya bagi seorang muslim yang akan mengawali suatu aktivitas ataupun pekerjaan.
Mengapa demikian? Hal ini karena ternyata, berkah atau tidaknya sebuah urusan atau pekerjaan akan sangat ditentukan oleh bacan bismillah di awalnya.

Seorang muslim yang mengawali suatu pekerjaan dengan bismillah, maka ia berhak atas kebaikan, keberkahan dan kemaslahatan dalam pekerjaannya itu, karena ia telah menyertakan Allah subhanahu wa taala dalam pekerjaan yang ia lakukan.
Namun sebaliknya, jika ia tidak memulainya dengan kalimat bismillah, maka pekerjaannya sepi dari kebaikan dan keberkahan dari Allah subhanahu wa taala karena ia telah mengesampingkan Allah subhanahu wa taala dalam pekerjaan tersebut.

Sebagai muslim, kita pasti sudah sering kan membaca kalimat bismillah?
Bahkan kalimat bismillah ini terasa mudah dan ringan bagi kita untuk mengucapkannya. Betapa tidak, kalimatnya yang begitu pendek dan singkat ini sangat mudah untuk dihafalkan dan dilafalkan. Bahkan semua umat islam di dunia ini pasti hafal dan tak asing lagi dengan kalimat bismillahirrahmanir rahiim.

Namun walaupun demikian, ternyata tidak mudah bagi kita untuk secara istiqomah mengucapkan kalimat bismillah ini untuk mengawali segala aktivitas maupun pekerjaan JIKA kita belum terbiasa mengamalkannya. Seringkali kita lupa membacanya, bahkan terkadang kita baru ingat setelah aktivitas yang kita lakukan selesai. Atau mungkin kita tidak membacanya karena terburu-buru oleh waktu.

Lebih dari itu, tahukah kita makna yang terkandung dalam kalimat yang singkat ini?
Sudahkah kita paham dan sadar akan kandungan makna yang terdapat dalam kalimat bismillahirrahmanir rahiim ?
Apa sebenarnya keistimewaan dari bismillah sehingga Allah subhanahu wa taala dan Rasul-Nya memerintahkan kepada kita agar mengawali setiap aktivitas, perbuatan, kegiatan ataupun pekerjaan dengan membaca bismillah?

Ketahuilah, bahwa untuk meraih rahasia kekuatan bismillah, tak hanya cukup dengan melafalkannya secara lisan saja, namun harus pula mengerti makna kandungannya.
Seorang ulama besar, Sayyid Abu Ala Maududi dalam kitab Tafhim al-Qur’an berpendapat, jika seorang muslim melakukan segala sesuatu dengan nama Allah subhanahu wa taala dengan sadar dan juga tulus, maka akan menghasilkan 3 (tiga) hal yang baik, yaitu :

  1. Ia akan terlindungi dari kejahatan atau pengaruh buruk. Karena dengan melibatkan nama Allah subhanahu wa taala, si fulan akan berpikir apakah segala niat dan tindakannya sudah sesuai dengan standar kebaikan Allah subhanahu wa taala;
  2. Dengan menyebut nama Allah subhanahu wa taala akan menciptakan sikap yang benar dan mengarahkan si fulan menuju arah yang benar;
  3. Ia akan menerima pertolongan dan berkah dari Allah subhanahu wa taala dan terlindungi dari godaan setan.

Sekarang marilah kita pelajari makna yang terkandung dalam bacaan bismillah ini. Dalam kitab tafsir Ma’riful Qur’an, Mufti Shafi Usmani radhiyallahu ‘anhu memberikan analisis secara bahasa tentang makna kata “bismillah”. Menurut beliau, kata bismillah terdiri dari tiga suku kata, yaitu ba, ism, dan Allah.

Kata “ba” memiliki tiga konotasi dalah bahasa arab :

  1. Mengekspresikan kedekatan antara dua benda yang satu dengan benda lainnya, hampir tidak memiliki jarak;
  2. Mencari pertolongan dari seseorang atau sesuatu;
  3. Mencari berkah dari seorang atau sesuatu.

Kata “ism” diambil dari kata as-sumuw yang berarti tinggi dan mulia, atau dari kata as-simah yang berarti tanda. Kata ini biasa diterjemahkan dengan “nama”. Nama disebut ism, karena ia seharusnya dijunjung tinggi atau karena ia menjadi tanda bagi sesuatu.

Sedangkan kata “Allah“, berakar dari kata walaha yang berarti mengherankan atau menakjubkan. Jadi, Tuhan dinamai Allah subhanahu wa taala karena segala perbuatan-Nya menakjubkan dan mengherankan. Karena itu, terdapat petunjuk yang menyatakan:

Berpikirlah tentang makhluk-makhluk Allah subhanahu wa taala, dan jangan berpikir tentang Dzat-Nya.

Sebagian ulama mengungkapkan bahwa kata Allah diambil dari kata aliha-ya’hu yang berarti menuju dan memohon. Tuhan dinamai Allah karena seluruh makhluk menuju serta memohon kepada-Nya dalam memenuhi kebutuhan mereka, atau juga berarti menyembah dan mengabdi, sehingga lafazh Allah berarti Dzat yang berhak disembah dan kepada-Nya tertuju segala pengabdian.

Ulama yang lain menjelaskan, kata Allah merupakan gabungan dari kata Al dan Ilah. Kata Al mempunyai fungsi definitif dalam bahasa Arab, yaitu untuk menunjukkan sesuatu yang khusus. Sedangkan kata Ilah mengandung arti sesuatu yang disembah. Kata Allah mengacu kepada sesuatu zat atau esensi yang tidak bisa dinisbatkan kepada yang lain, melainkan hanya kepada Allah subhanahu wa taala sendiri. Kata Allah juga merupakan bentuk tunggal yang tidak mempunyai bentuk dual atau jamak. Hal ini untuk menguatkan makna keesaan pada Allah subhanahu wa taala. Singkatnya, kata Allah mengandung atribut-atribut kesempurnaan.

Syekh Mutawalli Sya’rawi, seorang ulama kontemporer dan pakar bahasa, menyebutkan dalam tafsirnya tentang keistimewaan lafazh Allah:

Lafazh Allah selalu ada dalam diri manusia, walaupun ia mengingkari wujud-Nya dengan ucapan atau perbuatannya. Kata ini selalu menunjuk kepada Dia yang diharapkan bantuan-Nya itu. Perhatikanlah kata Allah, bila huruf pertamanya dihapus maka ia akan terbaca Lillah yang artinya “demi / karena Allah“. Bila satu huruf berikutnya dihapus, akan terbaca lahu, yang artinya untuk-Nya. Bila huruf berikutnya dihapus, maka ia akan tertulis huruf ha yang dapat dibaca hu (huwa), artinya Dia.

Berdasarkan keterangan tersebut, ada tiga makna kata bismillah dalam kaitannya dengan konotasi kata ba, yakni :

  1. Dengan nama Allah subhanahu wa taala;
    Huruf ba yang diterjemahkaan dengan kata “dengan” menyimpan satu kata yang tidak terucapkan, tetapi harus terlintas dalam benak ketika mengucapkan“bismillah”, yaitu “memulai”. Sehingga, “bismillah” berarti “saya / kami memulai dengan nama Allah subhanahu wa taala.”
    Dengan demikian, kalimat tersebut menjadi semacam do’a atau pernyataan dari pengucapnya. Atau dapat juga diartikan sebagai perintah dari Allah subhanahu wa taala (walaupun kalimat tersebut tidak berbentuk perintah), “Mulailah dengan nama Allah subhanahu wa taala..!”
    Syekh al-Maraghi dalam tafsirnya menjelaskan:
    “Dengan penyebutan nama di sini, berarti dirinya memulai pekerjaan dengan nama Allah subhanahu wa taala dan atas perintah-Nya, bukan atas dorongan hawa nafsu belaka.”
  2. Dengan pertolongan nama Allah subhanahu wa taala;
    Disini ada unsur keyakinan kepada Allah subhanahu wa taala yang telah memberikan kekuatan sehingga kita dapat melakukan aktivitas yang kita inginkan. Yakni pengakuan akan ketidakberdayaan kita di hadapan Allah subhanahu wa taala. Sehingga saat mengucapkan bismillah, seolah-olah kita berkata : “Dengan kekuatan Allah subhanahu wa taala dan pertolongan-Nya, pekerjaan yang sedang saya lakukan ini dapat terlaksana.”
  3. Dengan berkah nama Allah subhanahu wa taala.
    Berarti dengan pengucapan “bismillah” tersebut, kita memohon kepada Allah subhanahu wa taala agar pekerjaan atau aktivitas yang sedang kita lakukan diberi kebaikan dan keberkahan dari-Nya.

Kemudian jika bacaan bismillah ini kita sempurnakan menjadi bismillahirrahmanir rahiim, maka berarti kita telah meyakini akan kebesaran Allah subhanahu wa taala yang telah memberikan nikmat dan karunia, serta kasih sayang-Nya kepada seluruh makhluk-Nya.

Disebutkan bahwa ar-Rahman adalah merupakan sifat kepemurahan Allah subhanahu wa taala kepada seluruh makhluk-Nya yang diberikan di dunia, baik mereka yang beriman atau kafir, binatang, tumbuh-tumbuhan, serta makhluk-makhluk lainnya. Sementara itu, kata ar-Rahim adalah kasih sayang Allah subhanahu wa taala yang diberikan secara khusus oleh Allah subhanahu wa taala kelak di hari kiamat kepada orang-orang yang beriman dan mensyukuri segala kenikmatan. Kasih sayang-Nya secara khusus diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang mengabdikan diri kepada Allah subhanahu wa taala dan yakin bahwa semua kenikmatan bersumber dari-Nya.

lnilah di antara keagungan makna “bismillah”. Dari sini, kita bisa mengetahui bagaimana kuatnya efek dan dampak pengucapan kata “bismillah” secara signifikan dalam segala pekerjaan yang akan
kita lakukan. Dengan mengucapkan “bismillah”, maka kita berharap Allah subhanahu wa taala akan bersama-sama dengan kita, Allah subhanahu wa taala akan menolong dan melindungi kita, dan Allah subhanahu wa taala akan memberikan berkah dalam pekerjaan yang kita lakukan.

Dengan melibatkan Allah subhanahu wa taala dalam setiap tindakan kita, maka segala tindakan kita akan selalu berorientasi kepada Allah subhanahu wa taala. Dan hal tersebut ditransformasikan dari suatu pekerjaan biasa menjadi suatu aktivitas ibadah yang bernilai.

Untuk mendapatkan kekuatan bismillah, cobalah untuk mempraktikkannya dengan membacanya secara pelan disertai dengan menghayati maknanya. Kemudian rasakan bahwa kekuatan Allah subhanahu wa taala telah mengalir dan merasuk dalam diri kita. Dengan kekuatan nama-Nya, kita berjanji akan selalu menapaki jalan lurus-Nya. Dengan kekuatan nama-Nya, kita percaya akan selalu diberi petunjuk oleh-Nya. Dan dengan kekuatan nama-Nya, kita yakin akan diberi pertolongan dan keberkahan dari-Nya. Aamiin ya rabbal ‘alamin

Referensi :
Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Ibnul Jauzi.
Kasyifah As-Saja Syarh Safinah An-Najaa. Cetakan pertama, tahun 1432 H. Syaikh Muhammad Nawawi Al-Jawi Al-Bantani At-Tanari Asy-Syafi’i. Penerbit Dar Ibnu Hazm.
Sukses Dunia Akhirat dengan Do’a-do’a harian. Cetakan Pertama, tahun 1440 H. Mahmud Asy-Syafrowi. Penerbit Laksana.

0
أَحْمَد Seorang muslim yang berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Saya Gemar membaca, menulis dan juga senang untuk berbagi pengetahuan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *